LEBAK

Gubuk Reyot dan Harapan yang Tertahan: Kisah Suryadi di Pelosok Lebak

14
×

Gubuk Reyot dan Harapan yang Tertahan: Kisah Suryadi di Pelosok Lebak

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

LEBAK | lensanews.id 

Di sudut sunyi Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, tersimpan kisah getir tentang keteguhan hidup seorang warga. Selama kurang lebih 15 tahun, Suryadi (38) bersama istri dan dua anaknya bertahan di sebuah gubuk berukuran sekitar 3×4 meter yang kondisinya kian rapuh, nyaris tak lagi layak disebut tempat tinggal.

Keterbatasan ekonomi menjadi sekat tebal yang menghalangi upaya memperbaiki hunian tersebut. Suryadi menggantungkan hidup sebagai buruh tani serabutan, dengan penghasilan yang tak menentu—sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari.

Beban hidupnya kian berat oleh kondisi fisik yang tak lagi prima. Cedera tulang punggung akibat terjatuh dari pohon kecapi saat masa sekolah dasar masih menyisakan rasa sakit hingga kini, membatasi ruang geraknya dalam bekerja.

Dari pantauan di lapangan ,hunian yang ditempati keluarga ini tampak miring dengan struktur kayu dan anyaman bambu yang telah lapuk dimakan usia. Sebagian sisi bangunan bahkan harus disangga tiang sederhana agar tidak roboh. Di dalamnya, tak ada lantai ubin, hanya tanah, dengan perabotan yang serba terbatas.Minggu( 26april 2026)

Kala hujan turun disertai angin, air dengan mudah merembes dari atap yang bocor di berbagai titik. Situasi ini tak hanya menghadirkan ketidaknyamanan, tetapi juga kecemasan yang terus menghantui—akan kemungkinan rumah itu runtuh sewaktu-waktu.

Untuk menambah penghasilan, Suryadi sesekali mencari kroto (telur semut) yang dijual sekitar Rp30 ribu per dua ons. Namun pekerjaan ini hanya bisa dilakukan pada akhir pekan, dengan hasil yang tidak pasti. Sementara sebagai buruh tani, ia hanya memperoleh upah sekitar Rp25 ribu per hari saat ada pekerjaan.

“Biasanya hari Sabtu dan Minggu saya cari kroto untuk dijual,” ujarnya pelan.

Ia mengaku tak memiliki pilihan untuk merantau ke luar daerah. Selain keterbatasan pendidikan, kondisi fisiknya yang lemah menjadi penghalang utama.

“Bukan tidak mau merantau, tapi saya tidak kuat. Sejak jatuh dari pohon waktu SD, fisik saya tidak seperti dulu,” tuturnya.

Bantuan pemerintah yang selama ini diterima baru sebatas sembako dan bantuan sesekali. Menurutnya, bantuan tersebut belum mampu menjawab kebutuhan mendesak untuk memiliki rumah yang layak.

“Alhamdulillah ada bantuan, tapi belum cukup untuk memperbaiki rumah,” katanya.

Suryadi juga mengaku telah berulang kali mengajukan permohonan bantuan perbaikan rumah melalui pemerintah desa. Namun hingga kini, harapan itu belum berbuah realisasi.
“Sudah sering diusulkan, tapi belum ada tindak lanjut,” ujarnya.

Di tengah segala keterbatasan, harapan tetap ia jaga. Ia mendambakan tempat tinggal yang aman dan layak, terutama demi masa depan anak-anaknya.

“Saya hanya ingin punya rumah yang layak. Anak saya kadang merasa minder, apalagi kalau hujan dan rumah bocor,” ucapnya penuh harap.

Sementara itu, Sekretaris Desa Sukarendah, Sunatra, mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 10 rumah tidak layak huni di wilayahnya. Beberapa di antaranya berada dalam kondisi sangat memprihatinkan, termasuk milik Suryadi di Cipasung dan Sayuti di Galura.

“Yang paling parah memang rumah Suryadi dan Sayuti,” jelasnya.

Menurut Sunatra, pemerintah desa telah mengajukan bantuan ke berbagai instansi terkait, seperti Dinas Sosial, BPBD, dan Dinas Perumahan dan Permukiman. Namun hingga saat ini, proses tersebut masih menunggu realisasi.

“Sudah kami ajukan, tapi masih dalam tahap menunggu,” katanya.

Ia menjelaskan, keterbatasan anggaran desa menjadi kendala utama, mengingat sebagian besar anggaran terserap untuk kebutuhan rutin.

“Anggaran desa sangat terbatas, sehingga belum mampu mengakomodasi pembangunan fisik secara maksimal,” ujarnya.

Meski sempat muncul inisiatif warga untuk membantu secara swadaya, pemerintah desa tetap mengarahkan agar penanganan dilakukan melalui jalur resmi demi keberlanjutan dan ketepatan sasaran.

“Ada niat warga untuk membantu, tapi kami arahkan agar tetap melalui mekanisme pengajuan resmi,” tambahnya.

Sunatra berharap adanya perhatian dan keterlibatan berbagai pihak agar kondisi warga yang membutuhkan dapat segera tertangani.

“Kami berharap ada uluran tangan dari semua pihak, karena kondisinya memang sudah sangat memprihatinkan,” pungkasnya. (ND)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *