LEBAK

Tidak Ada Perhatian dari Pemerintah, Warga Kampung Pamatang Bangun Jalan Secara Swadaya

26
×

Tidak Ada Perhatian dari Pemerintah, Warga Kampung Pamatang Bangun Jalan Secara Swadaya

Sebarkan artikel ini

LEBAK  | lensanews.id 

Ditengah keterbatasan dan belum meratanya pembangunan infrastruktur, warga Kampung Pamatang, Desa Pasindangan, Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak, memilih tidak tinggal diam. Dengan semangat gotong royong, masyarakat secara swadaya membangun jalan lingkungan yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas warga.

 

Pembangunan jalan yang dikerjakan secara kolektif oleh masyarakat. Warga menyumbangkan tenaga, waktu, hingga material demi memperbaiki akses jalan yang setiap hari digunakan untuk menunjang aktivitas ekonomi, pendidikan, sosial, hingga mobilitas masyarakat.

Di bawah terik matahari, warga tampak bahu-membahu tanpa pamrih. Jum’at(5 Juni 2026)

 

Tidak ada kontraktor, tidak ada alat berat, dan tidak ada anggaran besar. Yang ada hanyalah kesadaran bersama bahwa akses jalan yang layak merupakan kebutuhan mendasar yang tak bisa terus menunggu.

 

Ketua RT Kampung Pamatang, Satri, menyampaikan apresiasinya atas kekompakan masyarakat yang tetap menjaga semangat kebersamaan demi kepentingan lingkungan.

“Alhamdulillah masyarakat sangat antusias. Jalan ini memang kebutuhan bersama, sehingga warga dengan kesadaran sendiri ikut terlibat agar lingkungan dan kampung kami lebih baik,” ujar Satri.

 

Ketua RW setempat, Busro, menilai kegiatan swadaya tersebut bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan bentuk nyata kepedulian masyarakat terhadap kondisi lingkungannya sendiri.

 

“Kekompakan warga adalah kekuatan utama kami. Apa yang dilakukan hari ini menunjukkan masyarakat memiliki rasa memiliki yang tinggi terhadap kampungnya dan tidak ingin terus bergantung tanpa ada kepastian,” katanya.

 

Sementara itu, tokoh masyarakat Kampung Pamatang, Jahid, menilai aksi gotong royong warga seharusnya menjadi bahan evaluasi sekaligus perhatian serius dalam menentukan arah pembangunan desa ke depan.

 

Menurutnya, ketika masyarakat harus bergerak sendiri membangun akses jalan yang menjadi kebutuhan dasar, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya persoalan infrastruktur yang dirasakan langsung oleh warga namun belum sepenuhnya tersentuh prioritas pembangunan.

 

“Kami tentu mengapresiasi berbagai program pembangunan yang sudah berjalan. Tetapi swadaya masyarakat ini juga menjadi gambaran bahwa masih ada kebutuhan mendasar warga yang membutuhkan perhatian lebih serius agar pembangunan benar-benar dirasakan secara merata,” ungkap Jahid.

 

Ia menambahkan, masyarakat selama ini tidak pernah berhenti mendukung pembangunan desa. Namun aspirasi terkait kebutuhan dasar, khususnya infrastruktur jalan yang menunjang aktivitas masyarakat, diharapkan tidak hanya menjadi pelengkap dalam agenda pembangunan.

 

“Ketika masyarakat dengan segala keterbatasannya mampu membangun jalan secara mandiri, itu menunjukkan tingginya kepedulian warga terhadap kampungnya. Semangat seperti ini seharusnya tidak dibiarkan berjalan sendiri, melainkan perlu mendapat dukungan dan keberpihakan nyata dari para pemangku kebijakan,” tegasnya.

 

Pembangunan jalan secara swadaya di Kampung Pamatang menjadi bukti bahwa gotong royong masih hidup dan menjadi kekuatan utama masyarakat desa. Namun di balik semangat kebersamaan tersebut, tersimpan pesan kuat bahwa pemerataan pembangunan infrastruktur masih menjadi harapan yang terus diperjuangkan warga.

Sebab bagi masyarakat, jalan bukan sekadar hamparan beton atau batu pengeras. Jalan adalah akses kehidupan, penggerak ekonomi, dan penopang masa depan warga desa.

Penulis : ND

Editor : I ndra AR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *