LEBAK

Lebak DARURAT Kelayakan Hidup, Anak Minder, Atap Bocor Pemerintah Cuma Janji

8
×

Lebak DARURAT Kelayakan Hidup, Anak Minder, Atap Bocor Pemerintah Cuma Janji

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

LEBAK | lensanews.id 

Jangan kaget kalau suatu pagi Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Warunggunung, dikejutkan kabar rumah roboh menimpa satu keluarga. Karena begitulah realita yang dihadapi Suryadi (38), buruh tani dengan tulang punggung cedera, yang 15 tahun terakhir “hidup” di gubuk 3×4 meter penyangga maut.

 

Sebut saja “hidup”. Karena yang ada di sana bukan rumah, tapi ancaman. Tiang bambu lapuk yang menopang bangunan itu lebih pantas disebut tiang jemuran ajal. Dinding anyaman berlubang, lantai tanah, dan atap yang kalau hujan deras berubah jadi saringan raksasa. Setiap angin kencang datang, Suryadi, istri, dan dua anaknya tidur dengan taruhan: roboh atau selamat.

 

Ironisnya, penderitaan ini bukan barang baru. 15 tahun. Sejak SBY, Jokowi, sampai sekarang. Ganti presiden, ganti menteri, tapi nasib Suryadi tetap: menunggu.

 

Penghasilannya? Jangan tanya. Rp25 ribu per hari. Itu pun kalau ada yang nyuruh macul. Cedera tulang punggung akibat jatuh dari pohon kecapi saat SD merampas satu-satunya aset buruh: fisik. Mau merantau? “Saya tidak kuat. Fisik saya tidak seperti dulu,” katanya lirih. Weekend dia cari kroto, dijual Rp30 ribu per 2 ons. Kalau beruntung. Kalau nggak? Puasa.*

 

“Anak saya kadang minder, apalagi kalau hujan dan rumah bocor,” ucap Suryadi. Kalimat pendek yang harusnya menampar siapa saja yang gajinya dari pajak rakyat.*

 

Pemerintah desa? Sudah mengajukan. Ke Dinsos, BPBD, Disperkim. Jawabannya klasik: “MASIH MENUNGGU”. Sekretaris Desa Sunatra jujur: ada 10 rumah tak layak, Suryadi paling parah. Anggaran desa habis untuk rutin. Artinya? Warga miskin disuruh sabar sampai negara punya uang. Kapan? Tidak ada yang tahu.

 

Bantuan sembako memang ada. Tapi maaf, sembako tidak bisa jadi tiang penyangga. Beras tidak bisa nambal atap bocor. Yang Suryadi butuh cuma satu: rumah yang tidak membunuhnya saat tidur.

 

“Sudah sering diusulkan, tapi belum ada tindak lanjut,” kata Suryadi. Kalimat yang harusnya dicetak tebal di meja Bupati Lebak dan Gubernur Banten.

 

Pertanyaannya sederhana: Sampai kapan rakyat kecil disuruh “menunggu”? Sampai gubuk itu benar-benar merenggut nyawa? Kalau menunggu 15 tahun belum cukup, berapa lama lagi? 20 tahun? Sampai anaknya jadi korban berikutnya?

 

Negara ini merdeka 80 tahun. Tapi kemerdekaan belum sampai ke Cipasung. Di sana, yang ada cuma gubuk reyot dan harapan yang ditahan birokrasi.

 

Pak Bupati, Pak Gubernur, Pak Menteri, Bu Menteri: Suryadi tidak butuh seminar kemiskinan. Dia butuh semen, pasir, dan tukang. Sekarang. Bukan “dalam tahap menunggu”.

 

(ND)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *