KOTA METRO | lensanews.id
Wali Kota Metro Bambang Iman Santoso menegaskan pelayanan publik di RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro harus terus ditingkatkan dan diberikan secara konsisten, bukan hanya ketika dilakukan penilaian oleh Ombudsman.
Penegasan itu disampaikan Bambang saat menerima Tim Penilai Ombudsman RI Perwakilan Lampung dalam kegiatan penilaian penyelenggaraan pelayanan publik di Kota Metro, yang berlangsung di Aula Diklat RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro, Selasa (11/8/2026).
Bambang mengatakan, pelayanan di rumah sakit daerah harus mengedepankan prinsip prima, cepat, mudah, transparan, serta benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan.
Menurutnya, RSUD Jenderal Ahmad Yani merupakan salah satu fasilitas kesehatan yang menjadi kebanggaan masyarakat Bumi Sai Wawai. Karena itu, kualitas pelayanan harus menjadi perhatian utama seluruh jajaran rumah sakit.
“Pelayanan di RSUD Ahmad Yani harus betul-betul baik. Saya berharap pelayanan yang diberikan benar-benar dirasakan masyarakat Metro yang sedang berobat di rumah sakit kebanggaan masyarakat Bumi Sai Wawai,” kata Bambang.
Ia menilai, kehadiran Ombudsman tidak semata-mata untuk memberikan penilaian, tetapi juga menjadi bagian dari fungsi pengawasan dan pembinaan terhadap penyelenggaraan pelayanan publik.
Bambang berharap hasil penilaian tersebut dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kinerja pelayanan, khususnya di RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro.
“Saya minta agar pelayanan di Rumah Sakit Ahmad Yani Metro betul-betul baik, sehingga kita terhindar dari perlakuan yang pura-pura baik,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi Tim Ombudsman RI Perwakilan Lampung yang turun langsung melakukan penilaian terhadap sejumlah sektor pelayanan publik di Kota Metro.
Selain RSUD Jenderal Ahmad Yani, penilaian juga mencakup Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta Dinas Sosial Kota Metro.
“Jangan sampai pelayanan yang baik hanya diberikan pada saat tim memberikan penilaian seperti hari ini. Pelayanan yang baik harus menjadi budaya dan diberikan setiap hari kepada masyarakat,” imbuh Bambang.
Ombudsman Soroti Empat Layanan Dasar
Sementara itu, Ketua Tim Penilai Ombudsman RI Perwakilan Lampung, Dodi Hermanto, mengatakan penilaian penyelenggaraan pelayanan publik merupakan bagian dari upaya mendorong peningkatan kualitas pelayanan pemerintah daerah di seluruh Indonesia.
Ia menyebut Kota Bandar Lampung sebelumnya telah masuk dalam tiga besar daerah dengan pelayanan publik terbaik di Indonesia. Karena itu, pihaknya berharap Kota Metro mampu mengikuti capaian tersebut.
“Saya berharap Kota Metro juga nantinya akan masuk tiga besar pelayanan publik terbaik di seluruh Indonesia,” ujar Dodi.
Dodi menjelaskan, pihaknya memfokuskan penilaian pada empat sektor pelayanan dasar, yakni pelayanan kesehatan, pendidikan, sosial kemasyarakatan, serta pekerjaan umum dan tata ruang.
Untuk sektor kesehatan, penilaian difokuskan pada pelayanan di rumah sakit umum daerah. Sementara sektor pendidikan dilakukan melalui Dinas Pendidikan, pelayanan sosial melalui Dinas Sosial, dan sektor pekerjaan umum melalui Dinas PUTR Kota Metro.
Menurut Dodi, kedatangan tim Ombudsman secara langsung ke Kota Metro bertujuan melihat dan menilai secara objektif kualitas pelayanan yang diterima masyarakat.
“Apakah selama ini pelayanan sudah baik atau justru sebaliknya. Kami juga akan mengidentifikasi apakah terdapat maladministrasi terhadap pengguna pelayanan di Kota Metro,” tegasnya.
RSUD Ahmad Yani Optimistis Raih Nilai Terbaik
Di tempat yang sama, Direktur RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro, Eko Hendro Saputra, menyatakan optimistis rumah sakit yang dipimpinnya mampu memperoleh hasil terbaik dalam penilaian Ombudsman tahun ini.
Pernyataan tersebut disampaikan Eko kepada awak media usai pembukaan kegiatan Penilaian Maladministrasi Penyelenggaraan Pelayanan Publik di Kota Metro oleh Ombudsman RI Perwakilan Lampung.
Menurut Eko, optimisme tersebut didasarkan pada berbagai upaya yang telah dilakukan rumah sakit dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Memang kami memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat. Yang menilai adalah masyarakat. Jadi, kepuasan masyarakat adalah kepuasan kami,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengelolaan pengaduan masyarakat terus diperbaiki. Selain itu, rumah sakit juga berupaya memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana, alat kesehatan, serta meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui berbagai pelatihan.
“Kita optimistis penilaiannya baik. Pengaduan dikelola dengan baik, sarana dan prasarana kita penuhi, alat kesehatan kita penuhi, dan SDM terus kita latih,” kata Eko.
Meski demikian, Eko mengakui masih terdapat keluhan dari masyarakat, salah satunya terkait keterbatasan kamar rawat inap.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari tingginya mobilitas pasien karena RSUD Jenderal Ahmad Yani merupakan rumah sakit rujukan regional.
“Keluhan masyarakat soal kamar yang penuh memang masih ada. Kami ini menjadi pusat kunjungan regional. Karena itu, ke depan kami berencana menambah gedung baru sekaligus menambah fasilitas kamar pasien,” tuturnya.
Saat ini, kata Eko, RSUD Jenderal Ahmad Yani memiliki 313 tempat tidur dengan tingkat keterisian mencapai sekitar 90 persen.
“Sekarang kita sudah memiliki 313 bed dan tingkat keterisiannya sudah sekitar 90 persen. Artinya, mohon maaf kepada masyarakat jika harus mengantre agak lama, karena mobilitas pasien kita memang tinggi,” pungkasnya.
Jika ingin, saya juga bisa membuat versi lebih “tajam” ala berita koran utama, dengan lead yang lebih kuat dan judul yang lebih menggigit, tanpa mengubah fakta dalam naskah.












