PESAWARAN

PAHAWANG: LUKISAN SURGA DI UJUNG LAMPUNG

150
×

PAHAWANG: LUKISAN SURGA DI UJUNG LAMPUNG

Sebarkan artikel ini

PESAWARAN | lensanews.id 

Dari dermaga Ketapang, perahu kayu seperti biasa sudah menunggu. Suara mesinnya brebet-breet. Ombaknya tenang, anginnya terasa sejuk hingga membelai anak rambutku.

 

Lalu aku naik ke perahu bang ojek menyambut kami dengan senyum ramah.

 

“Berangkat jam 9 ya, 30 menit nyampe,” ujar bang ojek laut sambil mengeluarkan pelampung.

 

Perahu meluncur santai. 30 menit kemudian, HP ju tak ada sinyal. Tapi mata ku menemukan surga.

Itu dia: Pulau Pahawang.

 

Airnya yang bening banget hingga ikan niko- niko di bawah terlihat jelas. Pasirnya putih. Apalagi Langitnya biru banget.

Tak heran kalau orang menyebut ini “Raja Ampat nya Lampung”.

 

Snorkeling: Kita akan Bertemu Nemo Beneran

 

Karena tujuan utama orang -orang ke Pahawang ingin Snorkeling.

 

Begitu kita menyemplung, pasti langsung kaget.

Di bawahnya ada taman. Tapi tamannya dari karang. Warna warni. Ada ungu, kuning, ijo.

 

Ditambah ikan-ikannya yang berenang bebas. Ada yang kecil, ada yang gede. Ada juga Nemo beneran. Orange putih, lagi sembunyi di anemon.

 

“Jangan dipegang ya mbak. Itu rumahnya ikan,” kata pemandu sambil nunjuk.

 

Tak terasa 1 jam di laut Pahawang rasanya cuma 5 menit. Saking betahnya.

 

Selain Pahawang Kecil, biasanya kapal mampir juga ke Pulau Kelagian Kecil sama Gosong.

Gosong itu merupakan pasir saja di tengah laut. Pas air laut surut Gosong akan terlihat, Cocok sekali buat foto-foto. Hasilnya dijamin kayak di Maldives.

 

Dari Nelayan Jadi Tukang Ojek Wisata

 

Dulu Pahawang ini kampung nelayan biasa. Namun

Sekarang? Hampir semua rumah di pulau ini disulap menjadi homestay.

 

Dan uniknya, Ibu-ibu di pulau Pahawang ini masak buat tamu. Sedangkan bapak-bapak nya menjadi kapten kapal. Dan tak sedikit anak-anak mereka menjadi guide snorkeling.

 

“Alhamdulillah, semenjak rame wisatawan, penghasilan kami bertnambah. Anak – anak bisa sekolah,” kata Ibu Ningsih, pemilik homestay.

 

Harga di Pulau Pahawang ini juga masih ramah. Sewa kapal sharing 350rb – 500ribu bisa muat 10 orang.

Homestay juga mulai 300rb udah dapet makan 3x. Sangat M

murah sekali kalau dibandingkan dengan Bali.

 

Tapi dibalik ramainya wisata Pulau ini ada PR.

Sampah. Kadang masih ada turis yang buang puntung rokok ke laut.

 

“Warga disini sudah membuat jadwal untuk bersih-bersih tiap minggu. Biar Pahawang tetep bening dan cantik” ujar Pak RT setempat.

 

Sunset dan Malam Tanpa Sinyal

 

Oh iya, sore di Pahawang itu paling enak.

Duduk di dermaga. Kaki dicelupin ke laut. Melihat sunset jingga yang menutupi Gunung anak Krakatau.

 

Kemudian malamnya? Gelap. Bintang banyak banget.

Karena tak ada sinyal, mau gak mau kita hanya ngobrol. Main gitar. Dan bakar ikan.

 

“Ini yang dicari orang kota. Tenang. Tak ada notif WA,” kata Dimas, turis dari Palembang.

 

Catatan Penutup:

 

Dateng, Tapi Jangan Dirusak

 

Pulau Pahawang itu cantik. Tapi cantiknya rapuh.

Sekali karang diinjak, butuh puluhan tahun untuk pulih kembali. Buang plastik kelaut bisa dimakan penyu.

 

Untuk para wisatawan kalau ke berkunjung ke pulau ini tolong ya:

Bawa pulang sampah. Jangan injek karang. dan jangan kasih makan ikan sembarangan.

 

Biar 10 tahun lagi, anak cucu kita masih bisa melihat Nemo sungguhan di sini.

 

Karena surga itu tak jauh.

Dia ada 30 menit dari Ketapang. Namanya Pahawang.

 

Penulis: Indra A.R.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *