LEBAK

Diduga Tercemar Potongan Kuku, Menu MBG Burger untuk Anak PAUD Barokah Desa Cisampih Tuai Sorotan 

164
×

Diduga Tercemar Potongan Kuku, Menu MBG Burger untuk Anak PAUD Barokah Desa Cisampih Tuai Sorotan 

Sebarkan artikel ini

LEBAK | lensanews.id 

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lebak kembali menjadi sorotan setelah ditemukan dugaan potongan kuku orang dewasa pada menu burger yang dibagikan kepada siswa PAUD Barokah. Menu tersebut diketahui berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Cilegongilir, Kecamatan Banjarsari,Kabupaten Lebak, Selasa (10/3/2026).

 

Temuan tersebut memicu kekhawatiran terkait standar kebersihan, pengawasan, serta jaminan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG yang diperuntukkan bagi anak-anak usia dini.

 

Informasi yang dihimpun menyebutkan, potongan kuku tersebut ditemukan menempel pada bagian patty burger yang menjadi salah satu menu MBG yang didistribusikan kepada siswa PAUD Barokah di Desa Cisampih, Kecamatan Banjarsari.

 

Kejadian ini dinilai sangat memprihatinkan karena mencerminkan adanya dugaan kelalaian dalam proses produksi maupun pengawasan makanan sebelum sampai kepada penerima manfaat. Padahal, program MBG seharusnya menjunjung tinggi standar higienitas dan keamanan pangan, mengingat makanan tersebut dikonsumsi oleh anak-anak yang tergolong rentan terhadap risiko kesehatan.

 

Upaya konfirmasi kepada Nizar selaku Kepala Dapur SPPG Desa Cilegongilir hingga berita ini diturunkan belum membuahkan tanggapan. Sikap tersebut memunculkan kesan kurang responsif terhadap persoalan serius yang menyangkut kualitas layanan pangan bagi anak-anak.

 

Sementara itu, Linda selaku ahli gizi dari pihak dapur SPPG mengaku telah menerima laporan terkait temuan tersebut dan menyatakan pihaknya langsung melakukan evaluasi internal.

 

“Kami sudah menerima laporan ini dan alhamdulillah langsung kami lakukan evaluasi. Kami juga sudah membicarakan hal ini secara internal dan merespons cepat laporan yang masuk,” ujarnya.

 

Linda menjelaskan bahwa dapur SPPG selama ini mengklaim telah menerapkan standar operasional prosedur (SOP) keamanan pangan, mulai dari proses pengecekan bahan baku dari pemasok hingga penerapan aturan kebersihan bagi seluruh petugas dapur.

 

“Sejauh ini dapur kami menerapkan SOP keamanan pangan, termasuk pengecekan bahan dari supplier. Selain itu ada SOP lain seperti pengecekan kuku petugas, larangan menggunakan aksesoris, serta kewajiban penggunaan alat pelindung diri (APD) secara lengkap,” jelasnya.

 

Ia juga menegaskan bahwa bahan makanan yang digunakan telah memenuhi standar kualitas dan kehalalan.

 

Meski demikian, pihak dapur menduga potongan kuku yang ditemukan kemungkinan berasal dari produk patty yang dipasok oleh distributor.

“Jika memang ada temuan kuku yang menempel pada patty, kemungkinan berasal dari distributor dan seharusnya tidak lolos dalam proses quality control sebelum sampai ke dapur kami,” tambahnya.

 

Pernyataan tersebut justru memunculkan pertanyaan baru mengenai efektivitas pengawasan dalam rantai distribusi bahan pangan program MBG. Sebab, setiap bahan yang masuk ke dapur semestinya melalui proses pemeriksaan ketat sebelum diolah dan didistribusikan kepada penerima manfaat.

 

Sejumlah pihak menilai kejadian ini tidak boleh dipandang sebagai persoalan sepele, melainkan harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap standar pengawasan dalam program MBG di daerah.

 

Badan Gizi Nasional (BGN) diharapkan segera melakukan penelusuran dan audit terhadap proses produksi hingga distribusi makanan yang dilakukan oleh SPPG Desa Cilegongilir. Jika terbukti terdapat unsur kelalaian, pemberian sanksi tegas dinilai perlu dilakukan guna menjaga integritas program serta memastikan keamanan pangan bagi anak-anak penerima manfaat.

 

Evaluasi menyeluruh dianggap penting agar program pemenuhan gizi bagi anak-anak tidak justru menghadirkan risiko baru yang berpotensi membahayakan kesehatan mereka. (Tim/Indra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *