OPINIPESAWARAN

POTRET KEMISKINAN: TAKDIR ATAU BUAH KESERAKAHAN?

9
×

POTRET KEMISKINAN: TAKDIR ATAU BUAH KESERAKAHAN?

Sebarkan artikel ini

POTRET KEMISKINAN: TAKDIR ATAU BUAH KESERAKAHAN?

Oleh: Indra A.R, PWI Pesawaran

 

PESAWARAN | lensanews.id 

Jam 04.30 WIB, Mak Minah 62 tahun sudah menyalakan tungku. Bukan untuk masak sarapan, tapi untuk merebus singkong sisa kemarin. Anaknya, Udin, 14 tahun, hari ini tidak sekolah. Seragamnya belum lunas ditambah sepatunya jebol sejak 3 bulan lalu.

 

Di gubuk 3×4 meter berdinding bambu itu, 1 keluarga hidup dengan Rp20 ribu per hari. Mak Minah buruh cuci, suaminya kuli angkut di pasar. Kalau hujan, bocor. Kalau kemarau, sumur tetangga kering.

 

Ini wajah kemiskinan yang tiap hari kita lewati di lampu merah, di kolong jembatan, di kampung-kampung.

 

Pertanyaannya: Salah siapa mereka miskin?

 

Kalau Bicara “Takdir”

 

Banyak yang bilang: “Ya namanya juga nasib. Udah garis tangan.”

Faktanya, kemiskinan memang bisa lahir dari faktor yang sulit dikontrol:

 

Sakit kronis: Bapak Wawan, tukang becak di Gedong Tataan, bangkrut karena cuci darah 2x seminggu. BPJS nunggak, tabungan habis.

– Pendidikan rendah: Mak Minah cuma lulus SD. Mau kerja pabrik, ijazahnya gak cukup.

 

Warisan kemiskinan: Anak lahir di keluarga miskin, gizi buruk, sekolah putus. Lingkaran setan berulang.

 

Ini takdir dalam arti “kondisi awal” yang tidak dipilih. Tidak ada bayi yang minta lahir di gubuk.

 

Kalau Bicara “Keserakahan Oknum Pejabat”

 

Tapi takdir tidak jalan sendirian. Data ICW 2025 nyebut: Kerugian negara akibat korupsi Rp48,7 Triliun setahun. Uang segitu cukup untuk:

 

Bangun 487.000 rumah layak huni tipe 36 untuk warga miskin

Biayai KIP Kuliah 4,8 juta mahasiswa dari keluarga tidak mampu

Gratiskan berobat 97 juta rakyat* selama setahun

 

Lihat kasusnya:

 

Dana Desa: Di Lampung, ada Kades yang sunat Rp200 juta dana BLT. Padahal itu jatah 100 KK miskin selama 6 bulan.

 

Bansos: 2024, KPK nangkap pejabat Kemensos karena mark-up beras bansos. Beras 10kg jadi 8kg. Yang lapar tetap lapar.

 

Infrastruktur: Jalan ke Desa rusak 10 tahun gak dibenerin. Proposalnya ada, tapi anggarannya “nyasar” ke proyek fiktif. Hasilnya: Udin gak bisa jual singkong ke pasar karena ongkos ojek mahal.

 

Dan ketika 1 pejabat tilep 1 Miliar, itu sama dengan nyabut jatah hidup 1000 Mak Minah selama setahun.*

 

Jadi, Takdir atau Serakah?

 

Jawabannya: Dua-duanya nyata, dan saling mengunci.

 

Takdir bikin orang jatuh. Keserakahan bikin orang gak bisa bangun lagi.

 

Mak Minah bisa saja lahir miskin. Itu takdir. Tapi ketika dia mau bangkit lewat PKH, namanya dicoret karena “tidak ada pelicin” ke oknum. Ketika anaknya mau sekolah gratis, pungli seragam nongol. Ketika suaminya mau modal UMKM, bunganya dicekik rentenir karena akses KUR dipersulit calo dinas.

 

Kemiskinan struktural lahir ketika “takdir” dipelihara oleh “sistem yang dibusukin”.

 

Di Kabupaten mana boa, APBD 2026 itu Rp2,1 Triliun. Kalau 10% aja bocor karena korupsi, hilang Rp210 Miliar. Uang itu bisa buat 21.000 beasiswa, 2100 bedah rumah, 210 km jalan desa.

 

Penutup: Yang Bisa Kita Lakukan

Buat Mak Minah. Negara wajib hadir. Bukan cuma kasih ikan, tapi kasih kail. BLT perlu, tapi pelatihan kerja + modal tanpa agunan lebih perlu.

Buat Pejabat: UU Tipikor sudah jelas. Sita harta koruptor, miskinkan. Biar ada efek jera.

Buat Kita: Stop bilang “udah nasib”. Karena diam kita adalah karpet merah buat pejabat serakah.

 

Kemiskinan bukan takdir yang harus diterima. Tapi juga bukan cuma salah pejabat. Ini soal kita sebagai bangsa: mau pelihara lingkaran setan, atau putus bareng-bareng.

 

Ingat! Duit korupsi tidak akan membuat keluarga bahagia, karena duit itu bukan haknya. Justru akan menjadi malapetaka buat keluarga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *