Lensanews.id | LEBAK
Plafon salah satu bangunan pasar Sampai Kecamatan Warung gunung Kabupaten Lebak dilaporkan ambruk beberapa hari lalu dan mengakibatkan belasan pedagang terdampak. Peristiwa tersebut terjadi akibat runtuhnya material plafon, namun tidak sampai merusak struktur utama bangunan.
Kepala Bidang (Kabid) Pasar Yani saat dikonfirmasi wartawan menjelaskan bahwa bangunan pasar tersebut merupakan hasil pembangunan dari Kementerian Perikanan Republik Indonesia pada tahun 2022, dan sepenuhnya dilaksanakan oleh pihak kementerian.kepada media( Senin 12/1/2026)
“Kalau bicara pembangunan, itu sepenuhnya dibangun oleh Kementerian Perikanan. Kami dari daerah tidak dilibatkan, baik dari sisi prosedur, pelaksanaan, maupun pelaksana proyeknya. Informasi yang kami terima, pelaksanaannya langsung dari Jakarta dan bukan kontraktor lokal,” ujar Yani.
Yani menegaskan bahwa pihak daerah tidak memiliki hubungan komunikasi langsung dengan pelaksana proyek karena sejak awal tidak dilibatkan dalam pembangunan tersebut.
“Saat kejadian pun kami tidak berkoordinasi langsung dengan pelaksana, karena memang tidak ada hubungan kerja. Yang kami lakukan adalah menyampaikan laporan kejadian kepada dinas terkait, dalam hal ini Dinas Perikanan,” jelasnya.
Berdasarkan laporan awal, terdapat 16 pedagang yang terdampak akibat ambruknya plafon. Selain itu, sejumlah fasilitas pasar turut mengalami kerusakan, termasuk sekitar 10 unit lampu besar yang terpasang di area tersebut.
“Yang ambruk itu plafonnya, tapi alhamdulillah rangka atau tulang-tulangnya tidak ikut turun dan masih terpasang. Jadi kerusakan tidak sampai ke struktur utama bangunan,” kata Yani.
Ia menambahkan bahwa material plafon yang runtuh terdiri dari beberapa jenis bahan, seperti PVC dan bahan lainnya, sehingga perhitungan kerugian dilakukan secara teknis oleh bagian aset dan sekretariat.
“Untuk nilai kerugian secara rupiah sudah dihitung oleh bagian aset. Nanti akan kami sampaikan secara resmi berapa total kerugiannya,” ujarnya.
Yani juga menyebutkan bahwa area pasar yang terdampak langsung dibersihkan pada hari yang sama agar aktivitas perdagangan bisa kembali berjalan.
Terkait pemeliharaan bangunan, Yani menjelaskan bahwa sejak serah terima, tidak terlihat adanya kerusakan signifikan. namun faktor cuaca dan kebocoran diduga menjadi pemicu.
“Kalau ada kebocoran dan terlihat sejak awal, tentu langsung kami lakukan pemeliharaan. tapi ini tidak kelihatan sebelumnya. Bisa jadi karena musim hujan yang menyebabkan lembab,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2024, pihaknya telah menganggarkan hampir Rp50 juta untuk pemeliharaan bangunan pasar tersebut.
“Anggaran pemeliharaan sudah ada, tapi kerusakan ini memang terjadi tiba-tiba. Ke depan akan kami perbaiki kembali dengan estimasi biaya puluhan juta rupiah,” pungkasnya. (ND)












