PESAWARAN | lensanews.id
Suara deru mesin perahu katir memecah keheningan pagi di Dermaga Ketapang. Angin laut bertiup agak kencang, membawa aroma garam yang khas saat riak gelombang menyambut kedatangan kami.
Di atas dek perahu kayu, seorang pria paruh baya dengan kulit legam terbakar matahari menyapa hangat. Tangannya yang kasar dengan sigap membagikan pelampung jingga kepada para penumpang.
“Kita berangkat jam sembilan ya. Kalau ombak tenang, tiga puluh menit juga sudah bersandar di pulau,” ujar kapten kapal lokal itu ramah.
Perahu pun mulai bergerak, membelah perairan Teluk Lampung yang biru pekat. Tepat setengah jam berselang, layar ponsel di genggaman perlahan kehilangan bar sinyalnya. Layar itu meredup, kehilangan dayanya untuk menghubungkan kami dengan dunia luar. Namun, tepat di saat koneksi dunia maya terputus, sejauh mata memandang justru terbentang gerbang menuju sekeping ketenangan: Pulau Pahawang.
Air laut di sekitar dermaga pulau begitu jernih. Dari atas geladak, hilir mudik ikan-ikan kecil dan hamparan lamun di dasar laut bisa terlihat dengan mata telanjang. Berpadu dengan garis pantai berpasir putih halus dan latar perbukitan hijau Pesawaran yang kokoh, tak heran jika tempat ini kerap dijuluki para pelancong sebagai salah satu sudut tercantik di gerbang Sumatra.
Menari Bersama Nemo di Kedalaman Teluk
Bagi siapa pun yang menjejakkan kaki di Pahawang, mengenakan masker selam dan menceburkan diri ke laut adalah ritual yang haram dilewatkan. Begitu tubuh menyentuh air yang sejuk dan kepala menunduk ke bawah permukaan, rasa takjub seketika membungkam obrolan.
Di bawah sana, terhampar sebuah kompleks karang yang hidup. Bukan sekadar batuan mati, melainkan koloni terumbu karang warna-warni yang menjadi rumah bagi biota laut.
Di antara lambaian tentakel anemon, sekawanan ikan badut (Amphiprion ocellaris) atau yang populer disebut “Nemo”, berenang meliuk-liuk. Warnanya yang oranye terang bergaris putih tampak kontras di antara riak air.
“Jangan coba-coba menyentuh karang atau memegang ikannya ya, Mas. Biarkan mereka tenang di rumahnya,” bisik seorang pemandu wisata lokal setengah berteriak dari balik pipa snorkelnya, mengingatkan kami untuk menjaga jarak aman dari ekosistem yang sensitif ini.
Waktu rasanya berjalan terlalu cepat di bawah air. Setelah puas bercengkerama dengan biota laut di Taman Nemo, perahu kembali membawa kami menjelajahi pulau-pulau kecil di sekitarnya.
Kami sempat singgah di Pulau Kelagian Kecil dan Gosong—sebuah hamparan pasir putih yang timbul secara magis di tengah laut hanya ketika air sedang surut.
Berdiri di atas Gosong memberikan sensasi visual yang dramatis; berdiri di atas setapak pasir dengan kepungan laut dua warna yang berbeda gradasi.
Denyut Baru di Kampung Nelayan
Pahawang hari ini telah bersolek. Pulau yang dulunya merupakan perkampungan nelayan sepi kini tumbuh menjadi salah satu barometer desa wisata mandiri di Lampung.
Rumah-rumah panggung kayu khas pesisir milik warga kini jamak disulap menjadi homestay yang bersih dan bersahaja bagi para pelancong.
Menariknya, pariwisata di sini digerakkan dengan napas kekeluargaan yang kental. Perputaran ekonominya menyentuh hampir seluruh lapisan warga pulau. Saat para suami bersiap di atas perahu sebagai kapten dan pemandu selam, para ibu di dapur sibuk bergotong-royong meracik sambal seruit dan membakar ikan segar tangkapan subuh untuk hidangan para tamu. Sementara itu, pemuda-pemuda desa mengambil peran sebagai garda depan yang menjaga keselamatan wisatawan saat snorkeling.
“Alhamdulillah, sejak kampung kita ramai dikunjungi orang, ada penghasilan tambahan yang pasti buat dapur. Anak-anak sekarang juga bisa sekolah lebih tinggi karena biayanya ada,” tutur Ibu Ningsih, salah satu pengelola homestay setempat dengan mata yang berbinar tulus.
Geliat ekonomi ini terasa kian ramah karena ongkos berwisata di sini tergolong membumi. Paket sewa perahu wisata secara patungan (sharing) berkisar antara Rp350 ribu hingga Rp500 ribu untuk kapasitas hingga 10 orang, sementara menginap di rumah warga berkisar dari Rp300 ribu per malam, sebuah angka yang sangat ekonomis bagi kantong penjelajah
Senja yang Tenang dan Malam Tanpa Notifikasi
Saat matahari mulai bergerak turun ke ufuk barat, dermaga kayu panjang menjadi sudut terbaik untuk menyendiri. Duduk di tepiannya, membiarkan kaki berayun bebas menyentuh permukaan air laut yang mulai menghangat, mata kami dimanjakan oleh gradasi langit yang berubah dari biru murni menjadi jingga kemerahan. Perlahan, sang surya tenggelam secara anggun di balik siluet perbukitan daratan utama Sumatra, menyisakan ketenangan yang magis.
Ketika malam benar-benar jatuh, atmosfer pulau berubah total. Kegelapan yang pekat justru terasa syahdu di bawah atap langit yang bertabur ribuan bintang. Di sinilah letak kemewahan Pahawang yang sesungguhnya. Tanpa adanya jaringan internet, gawai pintar di saku tak lebih dari sekadar benda mati.
Ketiadaan sinyal memaksa semua orang untuk kembali pada hakikat interaksi manusia yang purba: duduk melingkar di tepi pantai, membuka obrolan hangat tanpa interupsi, mendengarkan petikan gitar yang sumbang, sembari mencium aroma gurih dari ikan yang dibakar di atas bara batok kelapa.
“Bukankah ketenangan seperti ini yang mahal dan dicari orang-orang kota? Duduk di sini, mengobrol, tanpa ada satu pun notifikasi pekerjaan yang mengganggu pikiran,” ujar Dimas, seorang wisatawan asal Palembang yang malam itu tampak melepaskan penatnya dalam-dalam di keheningan pulau masih bisa menyaksikan kawanan Nemo asli berenang bebas di rumahnya sendiri.
Surga dunia itu nyatanya tidak berada di tempat yang teramat jauh. Ia hanya berjarak sepelemparan batu dari Kota Bandar Lampung, dilanjutkan dengan penyeberangan singkat dari Pelabuhan Ketapang.
Namanya Pahawang sebuah tempat di mana riak air laut dan kesunyian berpadu menawarkan kedamaian yang sejati.
Penulis : Indra AR












