BOGORNEWS

Makan Kenyang Tak Harus dengan Nasi, Pangan B2SA Jadi Pilihan Sehat dan Bergizi

207
×

Makan Kenyang Tak Harus dengan Nasi, Pangan B2SA Jadi Pilihan Sehat dan Bergizi

Sebarkan artikel ini

BOGOR | lensanews.id

Pemerintah Kabupaten Bogor, melalui Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Bogor, mengajak masyarakat untuk dapat memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi tanpa harus selalu mengandalkan nasi sebagai makanan pokok. Melalui penerapan pola konsumsi B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman), masyarakat diajak memanfaatkan berbagai sumber pangan lokal agar kebutuhan gizi terpenuhi sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah.

 

Pesan tersebut sejalan dengan semangat peringatan Hari Pangan Sedunia tingkat Kabupaten Bogor yang mengusung tema “Berinovasi Hari ini Sehat dan Tangguh di masa depan untuk Kabupaten Bogor”. Bertempat di Alun-alun Kabupaten Bogor, Cibinong, Minggu (25/10/2026).

 

Turut hadir, Bupati Bogor, Rudy Susmanto, Wakil Bupati Bogor, Ade Ruhandi, Ketua TP PKK Kabupaten Bogor Eva Rudy, Kadis Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor Andri Hadian beserta jajaran, Sekda dan Kepala OPD lingkup Kabupaten Bogor, Camat dan tamu undangan.

 

Peringatan Hari Pangan Sedunia ini kita kolaborasikan dengan kegiatan Car Free Day. Dengan menghadirkan berbagai kegiatan edukasi dan pelayanan publik kepada masyarakat, seperti pelayanan Disdukcapil, layanan pembuatan NIB, Perpustakaan Ruang Baca, layanan Uji Pangan Segar Asal Tumbuhan, layanan Kesehatan gratis dan donor darah, layanan BJB serta Gerakan Pangan Murah (GPM).

 

“Selain itu juga, rangkaian kegiatan seperti icip-icip pangan lokal, demo olahan pangan lokal, bagi-bagi sayur dan buah gratis (Bagas), Talk Show, bagi-bagi olahan ikan, benin bibit tanaman berkualitas serta serah terima juara 1,2 dan 3 kelompok Taman B2SA oleh Bupati Bogor, serah terima bantuan olahan pangan lokal kepada kelompok UMKM Rumah Pangan Lokal Indonesia (RPLI),” kata Rosi Yuliastini Kabid Konsumsi dan Penganekaragaman Pangan DKP kepada lensanews.id

 

Ia melanjutkan, selama ini nasi menjadi makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun, sumber karbohidrat sebenarnya tidak hanya berasal dari beras. Masyarakat dapat memperoleh energi dari berbagai bahan pangan lokal, seperti singkong, ubi jalar, jagung, talas, dan kentang.

 

Bahan pangan tersebut dapat diolah menjadi beragam hidangan yang menarik, lezat, dan mengenyangkan. Dengan pengolahan yang tepat serta dikombinasikan dengan sumber protein, sayuran, dan buah-buahan, pangan lokal dapat menjadi bagian dari pola makan sehari-hari yang sehat dan seimbang.

 

“Pola makan B2SA kunci gizi seimbang. Konsep B2SA menekankan pentingnya variasi makanan, bukan sekadar banyaknya makanan yang dikonsumsi. Beragam berarti mengonsumsi berbagai jenis pangan, bergizi berarti memenuhi kebutuhan zat gizi tubuh, seimbang berarti menyesuaikan porsi dan jenis makanan, sedangkan aman berarti pangan bebas dari bahaya yang dapat mengganggu kesehatan,” ujar Rosi yang juga ketua panitia acara.

 

Sebagai contoh masyarakat dapat mengganti nasi dengan jagung atau ubi, kemudian melengkapinya dengan ikan, telur, tempe, tahu, serta sayuran. Buah- buahan juga dapat dikonsumsi untuk melengkapi kebutuhan vitamin, mineral, dan serat. Dengan kombinasi tersebut, masyarakat tetap dapat menikmati makanan yang mengenyangkan sekaligus memperoleh zat gizi yang dibutuhkan tubuh.

 

Lebih lanjut, pangan lokal dorong ketahanan pangan daerah. Selain bermanfaat bagi kesehatan pemanfaatan pangan lokal juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Meningkatnya permintaan terhadap bahan pangan lokal dapat membuka peluang usaha baru, mulai dari pengolahan makanan hingga pemasaran produk pertanian.

 

Melalui kegiatan Hari Pangan Sedunia, masyarakat juga diperkenalkan dengan berbagai produk pangan lokal, demo pengolahan makanan, pembagian sayur dan buah, serta kegiatan edukasi mengenai pentingnya konsumsi pangan yang beragam dan bergizi. Diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa sumber pangan sehat tersedia dalam berbagai bentuk dan tidak harus selalu bergantung pada beras, makan kenyang tidak harus selalu dengan nasi.

 

“Dengan memilih pangan lokal yang beragam, mengatur komposisi makanan secara seimbang, dan memastikan keamanan pangan, masyarakat dapat membangun kebiasaan makan yang lebih sehat sekaligus mendukung ketahanan pangan Kabupaten Bogor,” pungkasnya. (Irvan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *