PESAWARAN | lensanews.id
Kita hidup di zaman yang aneh. Di warung kopi, obrolannya sama: masa depan suram. Daya beli jatuh, harga naik pelan-pelan tapi pasti, lapangan kerja kayak sembunyi. Anak muda lulus bawa ijazah, pulang bawa tanya: “kerja di mana?” Sabtu (30/05/2026)
Di gedung, obrolannya lain: efisiensi anggaran. Diagram dipotong, pos anggaran digeser, jargon “fokus pada yang esensial” ditebalin. Kedengarannya masuk akal. Siapa yang mau buang duit buat mubazir?
Tapi di lapangan, narasi itu sering berhenti jadi slide presentasi.
Pertanyaannya bukan “efisiensi itu salah atau benar”. Pertanyaannya: efisien untuk siapa, dan demi masa depan yang seperti apa?
Efisiensi tanpa kompas arah, ujungnya cuma jadi gunting buta. Yang dipotong bukan cuma kebocoran, tapi juga celah harapan. Beasiswa dipangkas, pelatihan UMKM dikurangi, anggaran riset dibilang “nggak urgent”. Katanya hemat. Padahal yang dihemat itu justru bibit masa depan.
*Paling menohok: belanja publikasi dipotong habis.*
Program buat rakyat? Sunat. Anggaran buat jaga gizi anak stunting? Sunat. Dana buat pelatihan petani? Sunat.
Tapi giliran belanja publikasi, spanduk, iklan pencitraan… katanya “efisiensi”. Habis. Lenyap. Nol rupiah.
Ironis. Pejabat masih mau dipuji, tapi nggak mau bayar ruang untuk menjelaskan kerja. Mau didengar rakyat, tapi mikrofonnya dimatiin sendiri. Efisiensi macam apa ini kalau yang dipotong justru jembatan komunikasi antara pemerintah dan rakyatnya?
Kita nggak bisa nyalain lampu hemat di ruangan yang dari awal udah gelap gulita. Nggak bisa ngomong “bertahan hidup” ke orang yang dari dulu belum pernah hidup layak.
Masa depan suram memang nyata kalau kita cuma jago motong, tapi gagap nanam. Efisiensi seharusnya bukan tentang “mengurangi”, tapi “mengalihkan”. Kurangi yang mubazir, alihkan ke yang produktif. Potong seremoni, tambah irigasi. Pangkas perjalanan dinas, tambah bantuan saprodi. Sunat iklan diri, tambah obat untuk rakyat.
Kalau tidak, maka “geliat efisiensi anggaran” cuma akan jadi drama tahunan. Panggungnya megah, pemainnya rapi, tapi penontonnya pulang dengan perut tetap kosong.
Dan rakyat sudah capek jadi penonton. Mereka mau jadi pemeran utama di masa depan bangsanya sendiri. Bukan figuran di poster pencitraan yang anggarannya aja udah dipotong duluan.
Penulis : Indra
Editor : I ndra AR












