PESAWARAN | lensanews.id
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Yang saya hormati Kepala Sekolah, Bapak/Ibu Guru, dan seluruh tamu undangan.
Saya berdiri di sini bukan membawa jabatan, tapi membawa nama: seorang bapak.
Bapak yang kerjanya tidak menentu. Hari ini mungkin jadi kuli bangunan, besok narik ojek, lusa kalau ada yang butuh tenaga, saya angkat. Tidak gengsi. Karena bagi saya, gengsi tidak bisa membayar uang daftar ulang anak.
Hari ini saya melihat anak-anak kita berdiri di depan, rapi, senyumnya lebar. Tapi di balik senyum itu, saya tahu ada air mata yang kami tahan sebagai orang tua. Bukan karena sedih berpisah, tapi karena lega. Lega anak kami sampai di titik ini.
Bapak, Ibu sekalian,
Katanya ada efisiensi anggaran. Katanya pendidikan makin dipermudah dengan sistem SPMB. Tapi kenapa yang kami rasakan justru semakin berat?
“Gratis” katanya. Tapi tetap ada yang namanya iuran wajib berkedok sukarela.
“Bebas seragam” katanya. Tapi anak saya pulang menangis karena malu pakai baju yang sudah luntur.
“Ringkas dan transparan” katanya. Tapi kami tetap bingung, harus ke mana kalau uangnya tidak cukup.
Saya tidak menuntut lebih. Saya hanya ingin pemerintah ingat: efisiensi itu bagus, tapi jangan sampai yang diefisiensikan adalah harapan anak-anak miskin.
Jangan sampai kata “hemat” di atas sana artinya “putus sekolah” untuk anak buruh di bawah sini.
Anak saya tidak bercita-cita jadi menteri. Dia hanya ingin jadi orang yang berguna. Mungkin jadi guru, mungkin jadi perawat, supaya bisa membantu orang lain yang hidupnya susah seperti kami. Itu saja. Mimpi yang sederhana, tapi jalannya terasa terjal.
Hari ini saya titipkan anak saya kepada sekolah. Titip ilmu, titip adab, titip harapan. Kalau suatu hari dia berhasil, ingatlah: dia anak dari bapak yang tidak punya gaji tetap, tapi punya cinta yang tidak pernah habis.
Kepada pemerintah yang terhormat, kalau bisa, turunlah sebentar dari gedung ber-AC itu. Duduklah sebentar di emperan tempat kami menunggu panggilan kerja. Rasakan apa rasanya menghitung uang sambil takut tidak cukup untuk menyekolahkan anak.
Sekolah boleh selesai hari ini. Tapi perjuangan kami sebagai orang tua tidak pernah selesai.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Penulis: Indra W
Editor : Indra A.R












