OPINI | lensanews.id
Aku duduk di pojok kamar, menatap kemeja lusuh di depanku. Lebaran sebentar lagi, tapi aku tak tahu apa yang harus kuharapkan. Ayahku pergi mencari kerja ke kota, belum pulang-pulang. Ibuku sibuk jualan di pasar, pulang malam. Aku dititipkan pada nenek.
Aku ingin kemeja baru, sepatu baru, dan uang THR. Tapi, aku tahu itu hanya mimpi. Ibu selalu bilang, “Lebaran nanti aja, nak. Sekarang masih puasa.”
Aku menghitung hari. 5 hari lagi, 4 hari lagi, 3 hari lagi… Aku semakin gembira, tapi juga semakin gawat. Apa yang akan terjadi jika ayahku tidak pulang? Apa yang akan terjadi jika ibuku tidak bisa jualan?
Nenekku mendekatiku, “Ayah dan ibumu sedang berusaha, nak. Kamu harus sabar.” Aku mengangguk, tapi hatiku tidak percaya.
Hari H, aku bangun pagi, mendengar suara ayahku. Aku berlari ke arahnya, memeluknya erat-erat. “Ayah pulang!” Aku menangis, tidak tahu apa yang harus kukatakan.
Ayahku tersenyum, “Ayah bawa oleh-oleh, nak. Kemeja baru, sepatu baru, dan uang THR.” Aku melompat-lompat, memeluk ayahku lagi.
Lebaran itu, aku tidak lagi menatap kemeja lusuh di depanku. Aku menatap ayahku, ibuku, dan keluargaku. Aku tahu, lebaran itu bukan tentang apa yang kita punya, tapi tentang siapa yang kita cintai.
Semoga lebaran ini anak – anak di penjuru pelosok desa berbahagia!
Penulis : Indra.












