lensanews.id | LEBAK –
Kondisi infrastruktur di Kabupaten Lebak kembali menjadi sorotan tajam. Presiden Mahasiswa (Presma) BEM Universitas La Tansa Mashiro menyoroti ketimpangan pembangunan yang dinilai belum menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, terutama di wilayah pelosok.
“Pemkab Lebak harus berhenti berbohong tentang kemajuan pembangunan! Narasi kemajuan pembangunan yang digaungkan berbanding terbalik dengan realita di lapangan,” tegas Presma La Tansa Mashiro.
Sektor pendidikan dan kesehatan menjadi area yang paling terdampak akibat buruknya aksesibilitas. Gedung Sekolah Dasar (SD) yang rusak parah mengancam keselamatan siswa dan menghambat cita-cita generasi mendatang.
“Kami masih menerima laporan tentang siswa yang harus belajar di bawah ancaman atap roboh. Bagaimana kita bicara mencetak Generasi Emas 2045 jika sarana belajarnya saja tidak layak?” kata Presma La Tansa Mashiro.
BEM La Tansa Mashiro melayangkan tiga tuntutan kepada Pemkab Lebak:
1. Audit Infrastruktur Pendidikan: Melakukan pemetaan transparan terhadap sekolah rusak dan memprioritaskan perbaikan segera.
2. Pemerataan Jalan Poros Desa: Mendesak fokus pembangunan tidak hanya berpusat di Rangkasbitung, tetapi menjangkau wilayah pinggiran.
3. Transparansi Anggaran: Menuntut keterbukaan alokasi anggaran agar masyarakat dapat mengawasi jalannya proyek infrastruktur.
“Kami tidak butuh seremoni peresmian yang megah jika rakyat masih harus bertaruh nyawa hanya untuk berangkat ke sekolah atau puskesmas,” tutupnya (Dhee)












